Selasa, 26 Juni 2012

“Mendjeladjah ke-enam puntjak gunung Salak, oleh Herman Lantang.MAPALA -FSUI , 31 Agustus 1969.- (Unpublished article)

“Titian Alam” yang menghubungkan Salak-2 dan Salak-1, dilihat dari Awi Tali- Taman Nasional Gunung Halimun Gunung Salak.


Semalam, Sabtu 12 Mei 2012, pkl 22:22 pm, untuk pertama kalinya Rafiq Pontoh (M-039-UI) pakar SAR MAPALA-UI, ahirnya dapat menghubungi ku per telpon dan melaporkan, bahwa Pesawat Sukhoi yang kena musibah di Gunung Salak, ternyata telah menabrak dinding terjal sebelah timur ”titian alam”, punggung  tipis Gunung Salak, yang menghubungkan Salak I dan II, dihulu sungai Ciapus, sehingga reruntuhannya bertebaran di dinding utara punggung gunung sebelah utara Salak-3 (2086 mdpl) yang menuju Salak-1, sampai kedasar hulu S.Ciapus, yang pernah ku turuni/datangi dengan susah payah secara tdiak sengaja (karena terpaksa) pada awal 1969, bersama sebuah Team Kecil 4 orang Mapala FSUI ( Toto Samekto (M- 023-UI), Bahrun Suwatdhi- (M-031-UI),alm Atang Amsjahdi- (M-022-UI) , yang kupimpin) dalam salah satu Survey mencari jalan  penyeberangan dari Gn Salak 1 ke Salak 2.
Sehari sebelumnya, Jumat pagi, 11 Mei 2012 aku juga dikunjungi Feri Syamsu Nugroho (M-834 UI)- Badan Pengurus MAPALA UI yang pamitan mau menggantikan/’aplusan’ Team MAPALA UI yang lagi SAR melewati  jalur Cidahu. Walaupun aku tidak mengikuti berita SAR, kecuali berita dari mulut kemulut, bahwa pesawat itu menabrak Gn Salak sebelah timur puncak Salak -1, pada ketinggian 1800 m.dpl dan ku dengar Pusat kegiatan SAR dikonsentrasikan  sekitar Cidahu./Cangkuang.
Ku katakan pada Feri, biarlah kalau ‘main stream’ kumpul ke Cidahu, menurut ku untuk mencapai lokasi tsb(1800m) jalan jang paling mudah/landai dan terdekat adalah dari Cimelati- sebab terahir aku melewati jalur ini  sekitar 14 thn yl (1998) ketika naik dari Cimelati, ke Salak 1, kudapat mencapainya hanya dalam waktu kurang dari 4 jam ,dalam umur yang sudah 58 thn waku itu., selanjutnya kami turun ke Kawah Ratu- terus ke Guungn Bundar.-Ciampea.
Ketika itu Mobil‘Land Rover’-ku membawa kami sampai ke ladang2 tertinggi, (ketinggian sekitar 1250 m dpl) menjelang perbatasan dengan hutan.reboisasi Dinas Kehutanan. (kalau memakai ’motor trail’saat ini, pasti bisa mencapai titik yang lebih tinggi lagi).

 
 Herman Lantang bersama alm. Rommy Katoppo dan Alm Idhan Lubis ketika turun ke Cimelati, pada thn 1969, Land Rover-ku membawa kami kurang dari 500 m dari lokasi ini thn 1998



Bersama Joyce, istriku dan Land Rover survey didaerah ”Awi Tali” –merekam pemandangan  ”Titian alam dari Salak-2 ke Salak-1

Setelah informasi TKP jelas(dari Rafiq Pontoh), kusarankan RESCUE Team ambil jalur yang paling mudah yaitu menyusuri sungai Ciapus dari Ciapus, atau  bisa juga pakai mobil sampai  ‘Camping Ground Sukamantri’, langsung turun dan menghulu sungai  Ciapus, sampai kehulu ”head water”nya, tepat dibawah dinding setinggi sekitar 500-600  meter (6 kali monas)- bisa scrambling dari pohon ke pohon, dibantu tali untuk ‘jumaring’. Niscaya akan lebih mudah/murah untuk mencapai TKP dan Rescue-ing sisa kecelakaan pesawat dan korbannya., asal dilakukan oleh sebuah Team Kecil  Pendaki Gunung yang, “Disiplin, Kompak dan Rendah Hati”- bukan ambisius akan mengejar ketenaran pribadi maupun kelompok., atau bermotivasi ‘mengambil kesempatan dalam kesempitan’.
  
Sejak thn 1965 , tiga kali aku gagal menemukan ‘titian alam’ untuk penyeberangan dari Gn Salak-1ke Salak-2, bahkan sekali dengan  tak sengaja sempat memasuki jurang Ciapus yang dalamnya sekitar lebih dari 600 m, tanpa perlengkapan yang memadai pada awal 1969,seperti yang kujelaskan diatas tadi;  baru pada April 1969, aku berhasil menemukankan ‘titian alam’ tsb, selanjutnya silahkan mengikuti (sebagian) Artikel yang ku tulis pada 31 Agustus 1969, untuk memberikan gambaran tentang medan ‘perawan’ digunung Salak yang tak lazim didatangi manusia.sejak berabad-abad, sebagai yang berikut.

 ”Titian alam” dari Salak -2 ke Salak -1. Kami start jm 05:00 am  dan ber’kemah’ jam 20:00 pm,pada ketinggian menjelang 2,200 m dpl,- hanya sekitar 15 m jaraknya dari tiang Triangulasi Salak -1 ketika itu.


“Mendjeladjah ke-enam puntjak gunung Salak, oleh Herman Lantang.MAPALA -FSUI , 31 Agustus 1969.- (Unpublished article)

Kalau kita berada dikota Bogor dan memandang arah ke Selatan-barat-daja, akan tampak satu kompleks gunung jang menarik dengan paling sedikit enam buah puntjaknja, itulah kompleks gunung Salak.
Puntjak jang tertinggi adalah Salak -1, ketinggiannya 2211 m dpl,  terletak djauh disebelah Barat-daja.(palingbelakang, dari arah Bogor), Puntjak Salak- 2 ketinggiannja  2180 m dpl; letaknja paling dekat dengan kota Bogor, nampak menjulang agak tersendiri dan seolah-olah jang paling tinggi dari puntjak2 lainnja.. Puntjak Salak -3, ketinggiannja 2086 m dpl, sedangkan tiga puntjak lainnja ketinggiannja semua diatas 2000 m dpl djuga.

 Sketsa Herman Lantang April thn 1967: Gn Salak dilihat dari Jln Panggrango, Ledeng Bogor. Nampak latar depan kebun Raya Bogor, Jurang Ciapus nampak jelas dalam, sempit dan terjal.


Walaupun gunung Salak merupakan gunung jang paling dekat letaknjadari Ibu kota, dimana terutama pada ahir2 ini ’Olah raga mendaki gunung’ sedang tumbuh dengan suburnja, namun pendakian djarang jang dilaksanakan dengan berhasil ditempat ini.
Dari laporan pendaki bangsa Belanda dahulu, tidak banjak pelukisan jang menjenangkan tentang pendakian ke Gunung Salak..Digambarkan bahwa medan gunung Salak tjukup terdjal, hutan belukarnja rapat, masih terdapat banyak matjan tutul dan matjan kumbang serta pasti banjak patjet dan ular terutama pada lereng2 dan kaki gunungnja.Tjuatja senantiasa hudjan lebat sepandjang tahun, jang disertai gemuruh dan halilintar. Didjelaskan pula bahwa puntjak Salak-2 dapat ditjapai sedikit2nja dengan pendakian lima djam dari arah utara, jakni dari desa Warung-loa (terletak pada ketinggian  600 m dpl) Puntjak Salak-1 agak sukar ditjapai, dan djalan setapak termudah adalah melalui punggung gunung lereng selatan.
Fransz W. Junghuhn, pendjeladjah bangsa Belanda jang termashur dalam laporannja tidak memberikan keterangan apa2 tentang pendakian ke gunung Salak, hanja menjinggung sedikit tentang letusannja pada 1699.
Memang, telah berpuluh2 kali diadakan pendakian oleh banjak Team Pendaki dari Jakarta maupun Bogor, tetapi orang senantiasa menemukan rintangan2 tepat sebagai jang digambarkan pendaki2 bangsa Belanda tadi. Djarang sekali orang dapat mentjapai tiang Triangulasi pada puntjak gunung  Salak-1 maupun puntjak gunung Salak-2, tanpa pertolongan seorang penundjuk djalan.
Sedjak tahun 1965 saja telah tiga kali mengadakan pendakian jang gagal menemukan tiang triangulasi puntjak gunung Salak. Pada pertengahan bulan April jl (1969). ketika mengadakan pendakian  gabungan bersama Team SHMC-Djakarta dan Team ANTELOPE- IPB Bogor, saya pertama kali dapat mentjapai Tiang Triangulasi pada puntjak gunung Salak-2

Bersama Team SHMC –Djakarta dan ANTELOPE- IPB-Bogor.April 1969.

Pada kesempatan berada dipuntjak Salak-2 ketika itu, saja gunakan sebaik2nja dari atas sebatang pohon jang tumbuh dekat tiang triangulasi saja peladjari rentetan puntjak2 gunung jang berada disebelah selatan tempat itu, Dengan pertolongan sebuah kompas dan peta lapangn thn 1943 berskala 1:50,000, saja adakan Navigasi lapangan mentjari2 kemungkinan untuk adakan penjeberangan kepuntjak Salak -1 dari tempat itu. Dalam peta jelas tergambar  sebuah punggung gunung sempit berbentuk agak melengkung jang menghubungkan kedua puntjak tertinggi gunung Salak ini. Punggung gunung ini sangat sempit dan mirip sebuah ”titian alam”, karena pada kedua sisinja terdapat jurang2 menganga sedalam lebih dari 500 meter dalamnja.
 Puntjak Salak-2 letaknja memang agak terpisah dari puntjak2 Salak lainnja jang membentuk serentetan pegunungan di sebelah selatan; Puntjak Salak-1 beserta puntjak2 lainnja sewaktu2 nampak terbuka atau tertutup oleh awan jang bergerak arah ketimur ketika itu.
Sekembalinja di Djakarta, penelitian mengenai medan gunung Salak, terutama mengenai keadaan/kontur ’titian alam’ penghubung puntjak Salak-1 dan Salak-2, masih saja landjudkan dengan mengobservasi maket relief2 gunung pada minatur Gunung Salak di Musium Pusat.
 Survey lapangan terahir ku lakukan ketika mengadakan Pendakian Seorang Diri lagi kepuntjak Salak-2, tanggal 23 Agustus jbl. Tiga-puluh-enam-djam lamanja ku berada dipuntjak Salak-2 berorientasi, navigasi dan observasi lapangan serta mengadakan persiapan2 pertama untuk penjeberangan jang rentjananja segera akan dilaksanakan.
Tjuatja pagi tanggal 24 Agustus 1969, sangat baik; puntjak2 gunung Panggrango/Mandalawangi, Gunung Gede, gunung Gemuruh dan gunung Mesjid nampak djelas disebelah Timur-tenggara; demikianpun gunung2 disekitar Puntjak pass sampai ke gunung Tampomas sama sekali tidak tertutup awan. Djam 08:00 pagi punggung gunung jang sempit untuk penjeberangan nanti dapat ku lihat dengan tegas. Mulanja agak berliku-liku kemudian mendaki sebuah bukit jang cukup lebar, kemudian perlahan-lahan melengkung kekanan menudju kepuntjak gunung Salak-1. Dinding gunung jang membentuk lereng utara puntjak Salak-1 nampaknja terdjal sekali.
Pada saat itu ku cukup ’puas’ dan ’site’ dari mana akan diadaan penurunan untuk menjeberang nanti segera aku tjari dan tentukan. Rintisan menurun pertama sedjauh hampir 20 meter segera ku buka ketika itu.
Selandjutnja sisa waktu dipuntjak Salak-2 aku gunakan untuk persiapan pertama, jaitu mendirikan sebuah kerangka bivak ketjil berukuran kira-kira 2 x 2 meter, dengan bahan setempat memakai tehnik membangun jang kupeladjari dari masjarakat Dani dipedalaman Irian Barat. Bahan2 untuk atap tidak terdapat dipuntjak gunung pada ketinggian sedemikian, djadi untuk atap,aku gunakan selembar plastik jang dapat dipasang dan disimpan kembali.
Dengan demikian survey jang cukup matang dan persiapan pertama untuk penjeberangan kepuntjak Salak-1 dari Salak-2 kuanggap telah selesai. . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . .” . (bagian pertama dari Unpublished Article). . . . . . . . . . . . ..  . . . . . . .


 Idhan  Lubis alm dan Tides Katoppo camping di” site Bivak Papua ,  2180 m dpl,di Salak-2- 1969

Ahirnya pada Rabu , 28 Agustus 1969, dengan ditemani Atang Amsyahdi (M-022), Sofyan Taib (M-056)dan Zantoro Zanzibar (SHMC)- ketiganya sudah alm sekarang, berempat kami adakan perjalanan eksplorasi penyeberangan Gn Salak-2 ke Salak-1 untuk pertama kalinya dalam ”Sejarah Pendakian gunung Salak.” Kami start jm 05:00 pagi,dari Bivak ”Papua”dekat Triangulasi Salak-2, yang sudah ku siapkan minggu  sebelumnya; setelah terang tanah kami segera turuni lereng  selatan Gn Salak-2 yang curam dan rapuh dengan tanah dan batu lepas longsor, kami menuju punggung gunung yang sempit dan tipis –setipis pematang sawah yang kusebut ”titian alam”, yang ditumbuhi pepohonan.dan akar2 telanjang yang menahan  sedikit tanah berlumut, sisa erosi sejak ratusan tahun yl, sehingga  kalau dapat, dengan mudah pohon2 kami tebang atau bergantungan pada akar2nya agar bisa lewat. Pada sisi kiri ataupun kanan ”titian alam”ini dimana jurang menganga sampai ratusan meter; Sebelah kiri Jurang Ciapus, sebelah kanan jurang Cikuluwung. Beban kami masing2 diatur sangat minim dan padat agar mudah bermanuver diantara pepohonan- kami tidak membawa tenda, hanya  selembar plastik untuk ’fly sheet bivak’, satu ”machete ”- parang komando, satu ”bowie knife” (yang menemaniku di Papua untuk menerabas; sebuah ”pioneer shovel”- sekop lipat, ”hurricane lantern”-lampu kapal, sebuah ”billy can”-belanga yang menemaniku di Papua, Rantang Militer serta ompregan bekas Perang Dunia ke-2 yang juga pernah nemaniku di Papua. Masing2 orang hanya bawa se pasang pakaian cadangan, tentu masing2 memakai sepasang sepatu boot  komando” sepatu Cheko” dengan ”koppel riem” serta ”veld-flesh”nya., juga membawa ”poncho” sendiri2. Persediaaan makanan Team untuk 3 hari termasuk nasi, abon, ikan asin, kopi, teh, susu , gula dan gula jawa, serta beras seadanya. Untuk persedaan air dibawa lebih dari cukup untuk perkiraan lebih dari sehari perjalanan.Berhubung tugasku akan orientasi medan- naik turun dan menerabas rintangan yi pohon , semak dan pakis merambat, maka selain perlengkapan jalan aku hanya membawa peta, kompas dan alat2 penerabas hutan saja; perlengkapan lainnya  dibagi secara merata pada  Atang, Ian dan Toro. Karena ’titian alam’ ini belum pernah dilewati manusia sebelumnya, maka sepanjang hari kami bergerak maju dengan pelan tetapi pasti. Dan setelah mahgrib kami  masih  belum melewati bagian yang sulit berupa  tebing tanah berpasir yang rapuh, mudah longsor dan terjal menuju kaki kerucut puncak Salak -1, menerabas pakis merambat yang menyebalkan dan sangat menguras tenaga.
Tiba2 turun hujan lebat,  terpaksa kami harus menudungi seluruh badan dan beban dengan ponco masing2 sambil melanjutkan pendakian dimalam dingin yang semakin gelap gulita. Sekitar jam 20:00, masih ditengah hujan lebat kami harus mendaki bagian terjal yang rapat ditumbuhi pepohonan.   Pada saat tertentu kami terpaksa harus istirahat sejenak- masing2 terpaksa harus duduk memeluk sebatang pohon agar tidak merosot dengan kaki tergantung. Lampu kapal dinyalakan agar kami bisa mendapat penerangan, Tak lama kemudian Halilintar mulai datang sabung menyabung, sebegitu kerasnya sehingga lampu kapal tiba2padam kena getarannya, membuat kami tambah khawatir dan masing2 berdoa mohon pertolongan Tuhan. Terpaksa malam itu kami tidur diatas pohon dengan kaki bergantungan. Walaupun semua capai kehabisan tenaga tetapi tak seorangpun bisa tidur dengan nyenyak dalam posisi was-was sedemikian. Ketika fajar mulai menyingsing kami sepakat segera melanjutkan pendakian.di pagi itu Tidak disangka rupa2nya puncak Salak-1 degan triangulasinya hanya terletak sekitar 20 m diatas tempat kami istirahat diatas pohon.
Perasaan terasa legah dipagi itu dan segera kami dirikan bivak, memasak makanan hangat dengan persediaan air yang lebih dari cukup-sebab waktu hujan semalam, kami sempat menampung  dan menambah persediaan air.
Selanjutnya kami turun arah ke Cidahu dan berjalan kaki sampai Cicurug, sebab dimasa itu pengankutan masih sangat langka... . .

Kemudian masih beberapa kali aku mengadakan Pendakian dan Penyeberangan dari Gunung Salak-2 ke Salak -1 seorang diri., sehingga Penduduk sekitar Warung- Loa, antara lain Pak Mun yang punya kandang kerbau dibatas hutan karet, pertigaan jalan ke Cihideung tempat ku sering menginap sudah ’tidak aneh’ melihat aku datang dan mendaki Gn Salak-2 sendirian, untuk tidak turun kembali; selanjutnya tiba2 satu dua minggu kemudian muncul lagi dari Jakarta untuk lakukan hal yang sama.

Pada bulan September 1969, bersama Toto B.H.Samekto (M-023 UI), Sofyan Taib.alm (M-052-UI) dan Idhan Lubis alm (MK-0058-UI) kami menuruni Salak-2 arah barat ke Gn Bundar  kemudian jalan kaki sepanjang malam untuk mencapai jalan raya Ciampea pada jam 05:30 pagi.Dalam peristiwa  itulah  Idhan Lubis alm, mendapat inspirasi menulis sajaknya yang berjudul ”Djika Berpisah” untuk ku pada tanggal 8 Des 1969 di Polonia.

Pada tgl 25, 26 dan 27 Oktober 1969, aku ditemani Tides Katoppo (MK-050-UI), saudara sepupunya Rommy Katoppo alm dan Idhan Lubis alm (MK-058 UI).menyeberangi ”titian alam” Salak-2 ke Salak-1 dan turun ke Cimelati; Kurang dari dua bulan kemudian, pada 16 Desember 1969, Idhan bersama Soe Hok-gie (M-007- UI) mendaki Gn Semeru untuk tidak kembali, sebab mereka naik terus pergi menghadap si ”Maha Pencipta”.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

 Herman,Rommy Katoppo alm dan Idhan Lubis alm di Triangulasi Salak-2. ”Bowie knife” yang dipakai Idhan, adalah Perlengkapan Utama kami menuruni tebing terjal gn Salak waktu itu-1969



Tiga puluh tahun yang lalu, terahir kalinya ku melakukan penyeberangan dari Salak-2 ke Salak-1 melalui ”titian alam”ini, yaitu pada thn 1983 diumur 43 thn, ketika itu telah menikah, - rencana akan mendaki sendirian lagi, tetapi ternyata ahirnya didampingi adik-ku (lain Ibu & lain Bapak yaitu) H.Iwan Tofani Ilyas SH- (M-194-UI), yang juga merupakan sebagai salah satu sahabat karibku. Pada hari pertama kami camping dipuncak Salak-2, setelah seharian mengadakan penyeberangan ke Salak-1, kami Campimg lagi semalam dekat tiang riangulasi Salak-1. sebelum turun dan mandi pada anak sungai digunung dengan airnya yang sejuk dan jernih, baru langsung turun ke Cicurug, melalui Cangkuang- Cidahu.

Komentar2 & SMS : 
  • Bachrun Suwatdhi- (ML 031 UI)- anggota Survey team 4 org MAPALA FSUI awal 1969- mantan wartawan Senior majalah Tempo.                                                                                                 SMS pada 14 May 2012; 14:14 pm : ” Man, saat nyasar 3 hari di gn Salak (awal thn 1969) pengalaman yg tidak terlupakan, kalau nggak sama anda pasti kita2 akan hilang, karna pengalaman masih nol.”                                                                                                                                         HOL: ”Hanya karena Kasih karunia dan Penyertaan Tuhan kita bisa Selamat waktu itu, bukan krn ama gw”
  • Janatan Ginting- First Indonesian Seven Summiter Mahipala-team member.                                        15 May 2012 ,11:26 am : ”Menjuah-juah, Opung Herman punya pengalaman lapangan yang hebat, bisa nurunin tebing gunung Salak itu, pasti opung orang  yang kuat  fisik dan mental ketika muda ”                                                  HOL: “Gak juga Jan, keadaan fisik sih biasa2 aja, dan ‘kepala batu” sih sama dengan kau, karna pengalaman adalah guru yang terbaik dan kami harus bisa lolos dan  ‘karena terpaksa sebab sudah terlanjur turun gak bisa naik lagi waktu itu, dan terutama karena - menyangkut  Hidup atau Mati; cuma punya dua pilihan:’Minta pertolongan Tuhan (agar dikuatkan Iman dan dikaruniakan hikmah  kebijaksanaan) dan berihtiar kreatif memakai akal&logika, yang  disertai latar belakang Pengetahuan, Keterampilan dan Pengalaman, maka akan diberi kesempatan untuk à Hidup (Survive) atau : "Menyerah tanpa berusaha, sama dengan menyerah pada Nasib  à Mati".


NB:  Waktu menuruni tebing ratusan meter tsb, mula2 kami ’secure’( amankan) dengan mengikat tunggul pohoh (yang tinggi), baru menebangnya sehingga posisi pohon dalam keadaan terbalik, tunggul diatas- pucuknya ke bawah, baru kami ”anchor’ tunggul itu dengan akar2 gantung atau tali terbuat dari kulit pohon agar tidak meluncur lepas, baru kami ’climb down’/descend, merangkak-turun melalui cabang dan ranting pohon yang ditebang tsb.Kami melakukan cara yang sama berulang2 sampai bisa mencapai dasar lembah; begitupun ketika melewati pinggiran2 air terjun.sepanjang aliran s Ciapus.selama dua hari sebelum tembus kemedan yang konturnya lebih landai.

11 komentar:

kelana tambora mengatakan...

luar biasa bang!
cerita yang menakjubkan.

Herman Lantang mengatakan...

Thanks, tekun dan sabar kalau menjelajah di alam, jangan terburu2 dan "passionate" nafsu atau andalkan otot dan tenaga tanpa otak, tetapi yang lebih utama berdoalah dan mohon bimbingan Tuhan . . .

rumputliarwidadik mengatakan...

hello oppa saya dadik metala, membaca tulisan oppp jadi pengen menjelajah gunung dan merasakan petalangan seperti di tulisan oppa, tapi di wilayah lawu banyak daerah belum terjelajahi karena selama ini hanya pada ke gunung lawu lewat jalur pendakian normal

irsan jufri mengatakan...

imajinasiku bekerja dengan sangat baik,membayangkan perjuangan abang herman lantang melewati titian alam,hanya satu kata ''NGERI''.Tapi tekad yang kuat dan semangat yg menghangatkan malam yg dingin ketika menginap diatas pohon saat hujan turun,merubah segalanya menjadi catatan sejarah dan kepuasaan pribadi yang takkan pernah lekang oleh waktu.Terima kasih telah menginspirasi dan membakar semangatku bang Herman Lantang.

Deasy Sharon mengatakan...

Saya kagum sama Opung

Deasy Sharon mengatakan...

Saya kagum sama Opung

rhe BludStory mengatakan...

salut opung, sampai sekarang saja aku masih berpikir jika ada ajakan untuk mendaki salak. ntah mengapa mental ini belum berani untuk mengajak kaki melangkah ke sana

Budi Noviyanto mengatakan...

Menginsipirasi sekali bagi kami pendaki pemula , makasih bang sudah mau berbagi cerita dengan kami yang masih belom tau banyak tentang alam ini

Budi Noviyanto mengatakan...

Menginsipirasi sekali bagi kami pendaki pemula , makasih bang sudah mau berbagi cerita dengan kami yang masih belom tau banyak tentang alam ini

Arif Yanuarto mengatakan...

Sungguh cerita yang hebat, merinding saya membacanya. mudah-mudahan suatu waktu saya bisa napak tilas "titian alam" ini.

Lael Alfi mengatakan...

salut sekali dengan oppa herman
menjadi legend yg diperbincangkan
jikalau bertemu dgn sesama pendaki di trek Gn.Salak