Tampilkan postingan dengan label Tentang Herman Lantang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Herman Lantang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Macan Tutul Jawa –, satu2 nya jenis"Macan besar", yang masih hidup berkeliaran bebas di alam, Pulau Jawa





Sumber Foto : Indonesia Heritage Wildlife, hlm:48.1996
"The Javan Leopard- Panthera Pardus melas,  is the last remaining Big Cat roaming free in wild on the Island of Java"



Walaupun sudah memiliki SIM, para pengendara mobil di Indonesia, jarang yang pernah menemui Rambu Lalu lintas unik bergambar macan, kecuali mereka yang pernah masuk Taman Nasonal Gunung Halimun –Salak, lebih khusus lagi bagi yang pernah memasuki Daerah kawasan Geothermal/Sumber Panas Bumi gn Awi Bengkok, sekitar kawah Gunung Salak; sebab pada tempat2 tertentu didaerah ini, terutama dimalam hari, seringkali masih jadi pelintasan Satwa Liar. Berkali2 saya bertemu serombongan Macan tutul, ditempat ini, malah kadang2 lengkap dengan anak2 macan-nya.  
 Adapun area ini merupakan Hutan Hujan Pegunungn terluas di Pulau Jawa (  113,367     ha) dan lokasinya terdekat dari ibu kota  Jakarta.
Gambar 1
  
Rambu pelintasan satwa liar-2004


Gambar 1 :  Macan Tutul Jawa, diatas Pipa penyalur  Panas Bumi yang berisolasi tebal tetapi masih terasa hangat dimalam yang dingin- Awi Tali, Gn Salak. 2004.


Sampai dengan pertengahan thn 1800-an di Jawa masih terdapat banyak jenis ‘Macan Besar’, al yang paling besar: Harimau Raja, The King’s Tiger- Panthera Tigris Sondaica, yang bulunya berloreng2 hitam dan Kuning gelap,  panjangnya dapat mencapai 2 ½ m dan berat 180-220 kg,( lebih besar dari Harimau Sumatra, -Panthera Tigris Sumatrae yang bulunya lebih terang,( dengan panjang 1,50-2,00 meter dan berat 90-140 kg), sedangkan Harimau Bali- Panthera Tigris Balica yang telah punah,( panjangnya 1,50-2,00 m, beratnya 90- 110 kg));  terdapat juga Macan Kumbang, -Panthera  sp, yang warnanya hitam lebam , dan  Macan Tutul Jawa- Panthera Pardus melas, dengan kulit bertutul2 hitam pada bulu kuning kecoklatan.
Adapun di Jawa, Harimau merupakan”Raja Rimba” yang ditakuti, dibenci serta dihormati sekaligus, Oleh sebab daerah perburuannya mencari makan, semakin sempit, shingga harimau karena terpaksa sering mengganggu dan memangsa Ternak milik penduduk.
Pada thn 1844, Dr Fransz Junghun pernah diundang Paku Buwono dari Solo untuk menghadiri “Rampongan” atau “Rampok Macan” yaitu suatu acara sosial budaya Jawa yang diselenggarakan oleh Paku Buwono dalam sebuah  Upacara  menyangkut Pengorbanan, dengan membunuh sejumlah macan/harimau , secara sacral dan terhormat; inilah antara lain laporannya:

 Rampok Macan di Blitar , 7 April 1894
 Mula2 sejumlah Harimau Raja, Macan Kumbang maupun macan Tutul dikumpulkan dalam kerangkeng2 kayu ditengah alun2. Para Bangsawan serta kerabat keraton lengkap dengan selir, dan putra putri mereka  berkumpul untuk menghadiri acara ini. Untuk para tamu agung disediakan panggung terhormat, setiap orang berpakaian yang terbaik dalam upacara ini. Perangkat Gamelan Sakral ditabuh dan sepasang penari dengan bertandak mengikuti alunan gamelan. Seluruh alun2 dipenuhi ribuan rakyat; Dijajarkan empat baris saf  terdiri dari: bagian depan para warga dan prajurit  yang siap siaga dengan lembing, tombak atau bambu  runcing lancip dan tajam. Dua orang penari tandak, dengan alunan gamelan menyembah Sang Paku buwono dan mendekati  dan menyembah Harimau dalam kerangkeng  terbesar, menyalakan api pada bagian belakang kerangkeng, lalu membuka pintu depan kerangkeng. Nyala api diperbesar  dan penari menghilang, Nampak perlahan2 seekor Harimau Raja, yang sebesar kerbau perlahan2 muncul  dan dengan tenang memandang sekitarnya, bunyi gamelan makin keras dan rakyat semakin riuh, perlahan2 Harimau itu keluar dan berjalan mondar mandir depan kerangkeng nya yang terbakar lalu berusaha mencari jalan untuk  meloloskan diri, tetapi tiap kali dia mendekati salah satu sisi, puluhan lembing dan tombak diarahkan padanya, membuat dia geram dan murka, ahirnya dia menerjang tombak2tsb  , berkali2 dia melakukannya membuat  tubuhnya luka2 tersobek mata tombak,ketika dia tergeletak semakin lemah orang2 datang menyerang dan menikamnya beramai2. Biasanya seseorang akan takut membunuh harimau seorang diri sebab ada kepercayaan  takut kena tulah, tetapi bilamana dilakukan beramai2 maka tulah itu tidak mempan.




Satu persatu kerangkeng berisi macan kumbang dan macan tutul diperlakukan demikian semuanya. Sampai seluruh macan dan harimau terbunuh. Demikianlah Upacara Pembunuhan Masal secara hikmat dan terhormat ini terus menerus dilakukan, sehingga makin lama macan dan harimau makin punah di Jawa. Tentang upacara Penghormatan yang khikmat ini dilaporkan oleh : DrTh.Pigeaud, ’Javaansche Volksvertoningen 1938.( Upacara penyelenggaraan pertunjukan Rakyat di Jawa.)
Dilain pihak para penguasa Pemerintah Kolonial mengadakan perburuan binatang liar di Jawa untuk sport atau mengumpulan Trophy.







Gambar 2a
Gambar 2b : Seekor Harimau Jawa ditembak di Malimping, Banten 1941
Sumber Gambar 2 : http://id.wikipedia.org, 27 November 2009 07.35 Foto : H. Bartels


“Mendjeladjah ke-enam puntjak gunung Salak, oleh Herman Lantang.MAPALA -FSUI , 31 Agustus 1969.- (Unpublished article)

“Titian Alam” yang menghubungkan Salak-2 dan Salak-1, dilihat dari Awi Tali- Taman Nasional Gunung Halimun Gunung Salak.


Semalam, Sabtu 12 Mei 2012, pkl 22:22 pm, untuk pertama kalinya Rafiq Pontoh (M-039-UI) pakar SAR MAPALA-UI, ahirnya dapat menghubungi ku per telpon dan melaporkan, bahwa Pesawat Sukhoi yang kena musibah di Gunung Salak, ternyata telah menabrak dinding terjal sebelah timur ”titian alam”, punggung  tipis Gunung Salak, yang menghubungkan Salak I dan II, dihulu sungai Ciapus, sehingga reruntuhannya bertebaran di dinding utara punggung gunung sebelah utara Salak-3 (2086 mdpl) yang menuju Salak-1, sampai kedasar hulu S.Ciapus, yang pernah ku turuni/datangi dengan susah payah secara tdiak sengaja (karena terpaksa) pada awal 1969, bersama sebuah Team Kecil 4 orang Mapala FSUI ( Toto Samekto (M- 023-UI), Bahrun Suwatdhi- (M-031-UI),alm Atang Amsjahdi- (M-022-UI) , yang kupimpin) dalam salah satu Survey mencari jalan  penyeberangan dari Gn Salak 1 ke Salak 2.
Sehari sebelumnya, Jumat pagi, 11 Mei 2012 aku juga dikunjungi Feri Syamsu Nugroho (M-834 UI)- Badan Pengurus MAPALA UI yang pamitan mau menggantikan/’aplusan’ Team MAPALA UI yang lagi SAR melewati  jalur Cidahu. Walaupun aku tidak mengikuti berita SAR, kecuali berita dari mulut kemulut, bahwa pesawat itu menabrak Gn Salak sebelah timur puncak Salak -1, pada ketinggian 1800 m.dpl dan ku dengar Pusat kegiatan SAR dikonsentrasikan  sekitar Cidahu./Cangkuang.
Ku katakan pada Feri, biarlah kalau ‘main stream’ kumpul ke Cidahu, menurut ku untuk mencapai lokasi tsb(1800m) jalan jang paling mudah/landai dan terdekat adalah dari Cimelati- sebab terahir aku melewati jalur ini  sekitar 14 thn yl (1998) ketika naik dari Cimelati, ke Salak 1, kudapat mencapainya hanya dalam waktu kurang dari 4 jam ,dalam umur yang sudah 58 thn waku itu., selanjutnya kami turun ke Kawah Ratu- terus ke Guungn Bundar.-Ciampea.
Ketika itu Mobil‘Land Rover’-ku membawa kami sampai ke ladang2 tertinggi, (ketinggian sekitar 1250 m dpl) menjelang perbatasan dengan hutan.reboisasi Dinas Kehutanan. (kalau memakai ’motor trail’saat ini, pasti bisa mencapai titik yang lebih tinggi lagi).

 
 Herman Lantang bersama alm. Rommy Katoppo dan Alm Idhan Lubis ketika turun ke Cimelati, pada thn 1969, Land Rover-ku membawa kami kurang dari 500 m dari lokasi ini thn 1998



Bersama Joyce, istriku dan Land Rover survey didaerah ”Awi Tali” –merekam pemandangan  ”Titian alam dari Salak-2 ke Salak-1

Setelah informasi TKP jelas(dari Rafiq Pontoh), kusarankan RESCUE Team ambil jalur yang paling mudah yaitu menyusuri sungai Ciapus dari Ciapus, atau  bisa juga pakai mobil sampai  ‘Camping Ground Sukamantri’, langsung turun dan menghulu sungai  Ciapus, sampai kehulu ”head water”nya, tepat dibawah dinding setinggi sekitar 500-600  meter (6 kali monas)- bisa scrambling dari pohon ke pohon, dibantu tali untuk ‘jumaring’. Niscaya akan lebih mudah/murah untuk mencapai TKP dan Rescue-ing sisa kecelakaan pesawat dan korbannya., asal dilakukan oleh sebuah Team Kecil  Pendaki Gunung yang, “Disiplin, Kompak dan Rendah Hati”- bukan ambisius akan mengejar ketenaran pribadi maupun kelompok., atau bermotivasi ‘mengambil kesempatan dalam kesempitan’.
  
Sejak thn 1965 , tiga kali aku gagal menemukan ‘titian alam’ untuk penyeberangan dari Gn Salak-1ke Salak-2, bahkan sekali dengan  tak sengaja sempat memasuki jurang Ciapus yang dalamnya sekitar lebih dari 600 m, tanpa perlengkapan yang memadai pada awal 1969,seperti yang kujelaskan diatas tadi;  baru pada April 1969, aku berhasil menemukankan ‘titian alam’ tsb, selanjutnya silahkan mengikuti (sebagian) Artikel yang ku tulis pada 31 Agustus 1969, untuk memberikan gambaran tentang medan ‘perawan’ digunung Salak yang tak lazim didatangi manusia.sejak berabad-abad, sebagai yang berikut.

 ”Titian alam” dari Salak -2 ke Salak -1. Kami start jm 05:00 am  dan ber’kemah’ jam 20:00 pm,pada ketinggian menjelang 2,200 m dpl,- hanya sekitar 15 m jaraknya dari tiang Triangulasi Salak -1 ketika itu.


“Mendjeladjah ke-enam puntjak gunung Salak, oleh Herman Lantang.MAPALA -FSUI , 31 Agustus 1969.- (Unpublished article)

Kalau kita berada dikota Bogor dan memandang arah ke Selatan-barat-daja, akan tampak satu kompleks gunung jang menarik dengan paling sedikit enam buah puntjaknja, itulah kompleks gunung Salak.
Puntjak jang tertinggi adalah Salak -1, ketinggiannya 2211 m dpl,  terletak djauh disebelah Barat-daja.(palingbelakang, dari arah Bogor), Puntjak Salak- 2 ketinggiannja  2180 m dpl; letaknja paling dekat dengan kota Bogor, nampak menjulang agak tersendiri dan seolah-olah jang paling tinggi dari puntjak2 lainnja.. Puntjak Salak -3, ketinggiannja 2086 m dpl, sedangkan tiga puntjak lainnja ketinggiannja semua diatas 2000 m dpl djuga.

 Sketsa Herman Lantang April thn 1967: Gn Salak dilihat dari Jln Panggrango, Ledeng Bogor. Nampak latar depan kebun Raya Bogor, Jurang Ciapus nampak jelas dalam, sempit dan terjal.


Walaupun gunung Salak merupakan gunung jang paling dekat letaknjadari Ibu kota, dimana terutama pada ahir2 ini ’Olah raga mendaki gunung’ sedang tumbuh dengan suburnja, namun pendakian djarang jang dilaksanakan dengan berhasil ditempat ini.
Dari laporan pendaki bangsa Belanda dahulu, tidak banjak pelukisan jang menjenangkan tentang pendakian ke Gunung Salak..Digambarkan bahwa medan gunung Salak tjukup terdjal, hutan belukarnja rapat, masih terdapat banyak matjan tutul dan matjan kumbang serta pasti banjak patjet dan ular terutama pada lereng2 dan kaki gunungnja.Tjuatja senantiasa hudjan lebat sepandjang tahun, jang disertai gemuruh dan halilintar. Didjelaskan pula bahwa puntjak Salak-2 dapat ditjapai sedikit2nja dengan pendakian lima djam dari arah utara, jakni dari desa Warung-loa (terletak pada ketinggian  600 m dpl) Puntjak Salak-1 agak sukar ditjapai, dan djalan setapak termudah adalah melalui punggung gunung lereng selatan.
Fransz W. Junghuhn, pendjeladjah bangsa Belanda jang termashur dalam laporannja tidak memberikan keterangan apa2 tentang pendakian ke gunung Salak, hanja menjinggung sedikit tentang letusannja pada 1699.
Memang, telah berpuluh2 kali diadakan pendakian oleh banjak Team Pendaki dari Jakarta maupun Bogor, tetapi orang senantiasa menemukan rintangan2 tepat sebagai jang digambarkan pendaki2 bangsa Belanda tadi. Djarang sekali orang dapat mentjapai tiang Triangulasi pada puntjak gunung  Salak-1 maupun puntjak gunung Salak-2, tanpa pertolongan seorang penundjuk djalan.
Sedjak tahun 1965 saja telah tiga kali mengadakan pendakian jang gagal menemukan tiang triangulasi puntjak gunung Salak. Pada pertengahan bulan April jl (1969). ketika mengadakan pendakian  gabungan bersama Team SHMC-Djakarta dan Team ANTELOPE- IPB Bogor, saya pertama kali dapat mentjapai Tiang Triangulasi pada puntjak gunung Salak-2

Bersama Team SHMC –Djakarta dan ANTELOPE- IPB-Bogor.April 1969.

Pada kesempatan berada dipuntjak Salak-2 ketika itu, saja gunakan sebaik2nja dari atas sebatang pohon jang tumbuh dekat tiang triangulasi saja peladjari rentetan puntjak2 gunung jang berada disebelah selatan tempat itu, Dengan pertolongan sebuah kompas dan peta lapangn thn 1943 berskala 1:50,000, saja adakan Navigasi lapangan mentjari2 kemungkinan untuk adakan penjeberangan kepuntjak Salak -1 dari tempat itu. Dalam peta jelas tergambar  sebuah punggung gunung sempit berbentuk agak melengkung jang menghubungkan kedua puntjak tertinggi gunung Salak ini. Punggung gunung ini sangat sempit dan mirip sebuah ”titian alam”, karena pada kedua sisinja terdapat jurang2 menganga sedalam lebih dari 500 meter dalamnja.
 Puntjak Salak-2 letaknja memang agak terpisah dari puntjak2 Salak lainnja jang membentuk serentetan pegunungan di sebelah selatan; Puntjak Salak-1 beserta puntjak2 lainnja sewaktu2 nampak terbuka atau tertutup oleh awan jang bergerak arah ketimur ketika itu.
Sekembalinja di Djakarta, penelitian mengenai medan gunung Salak, terutama mengenai keadaan/kontur ’titian alam’ penghubung puntjak Salak-1 dan Salak-2, masih saja landjudkan dengan mengobservasi maket relief2 gunung pada minatur Gunung Salak di Musium Pusat.
 Survey lapangan terahir ku lakukan ketika mengadakan Pendakian Seorang Diri lagi kepuntjak Salak-2, tanggal 23 Agustus jbl. Tiga-puluh-enam-djam lamanja ku berada dipuntjak Salak-2 berorientasi, navigasi dan observasi lapangan serta mengadakan persiapan2 pertama untuk penjeberangan jang rentjananja segera akan dilaksanakan.
Tjuatja pagi tanggal 24 Agustus 1969, sangat baik; puntjak2 gunung Panggrango/Mandalawangi, Gunung Gede, gunung Gemuruh dan gunung Mesjid nampak djelas disebelah Timur-tenggara; demikianpun gunung2 disekitar Puntjak pass sampai ke gunung Tampomas sama sekali tidak tertutup awan. Djam 08:00 pagi punggung gunung jang sempit untuk penjeberangan nanti dapat ku lihat dengan tegas. Mulanja agak berliku-liku kemudian mendaki sebuah bukit jang cukup lebar, kemudian perlahan-lahan melengkung kekanan menudju kepuntjak gunung Salak-1. Dinding gunung jang membentuk lereng utara puntjak Salak-1 nampaknja terdjal sekali.
Pada saat itu ku cukup ’puas’ dan ’site’ dari mana akan diadaan penurunan untuk menjeberang nanti segera aku tjari dan tentukan. Rintisan menurun pertama sedjauh hampir 20 meter segera ku buka ketika itu.
Selandjutnja sisa waktu dipuntjak Salak-2 aku gunakan untuk persiapan pertama, jaitu mendirikan sebuah kerangka bivak ketjil berukuran kira-kira 2 x 2 meter, dengan bahan setempat memakai tehnik membangun jang kupeladjari dari masjarakat Dani dipedalaman Irian Barat. Bahan2 untuk atap tidak terdapat dipuntjak gunung pada ketinggian sedemikian, djadi untuk atap,aku gunakan selembar plastik jang dapat dipasang dan disimpan kembali.
Dengan demikian survey jang cukup matang dan persiapan pertama untuk penjeberangan kepuntjak Salak-1 dari Salak-2 kuanggap telah selesai. . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . .” . (bagian pertama dari Unpublished Article). . . . . . . . . . . . ..  . . . . . . .


 Idhan  Lubis alm dan Tides Katoppo camping di” site Bivak Papua ,  2180 m dpl,di Salak-2- 1969

Ahirnya pada Rabu , 28 Agustus 1969, dengan ditemani Atang Amsyahdi (M-022), Sofyan Taib (M-056)dan Zantoro Zanzibar (SHMC)- ketiganya sudah alm sekarang, berempat kami adakan perjalanan eksplorasi penyeberangan Gn Salak-2 ke Salak-1 untuk pertama kalinya dalam ”Sejarah Pendakian gunung Salak.” Kami start jm 05:00 pagi,dari Bivak ”Papua”dekat Triangulasi Salak-2, yang sudah ku siapkan minggu  sebelumnya; setelah terang tanah kami segera turuni lereng  selatan Gn Salak-2 yang curam dan rapuh dengan tanah dan batu lepas longsor, kami menuju punggung gunung yang sempit dan tipis –setipis pematang sawah yang kusebut ”titian alam”, yang ditumbuhi pepohonan.dan akar2 telanjang yang menahan  sedikit tanah berlumut, sisa erosi sejak ratusan tahun yl, sehingga  kalau dapat, dengan mudah pohon2 kami tebang atau bergantungan pada akar2nya agar bisa lewat. Pada sisi kiri ataupun kanan ”titian alam”ini dimana jurang menganga sampai ratusan meter; Sebelah kiri Jurang Ciapus, sebelah kanan jurang Cikuluwung. Beban kami masing2 diatur sangat minim dan padat agar mudah bermanuver diantara pepohonan- kami tidak membawa tenda, hanya  selembar plastik untuk ’fly sheet bivak’, satu ”machete ”- parang komando, satu ”bowie knife” (yang menemaniku di Papua untuk menerabas; sebuah ”pioneer shovel”- sekop lipat, ”hurricane lantern”-lampu kapal, sebuah ”billy can”-belanga yang menemaniku di Papua, Rantang Militer serta ompregan bekas Perang Dunia ke-2 yang juga pernah nemaniku di Papua. Masing2 orang hanya bawa se pasang pakaian cadangan, tentu masing2 memakai sepasang sepatu boot  komando” sepatu Cheko” dengan ”koppel riem” serta ”veld-flesh”nya., juga membawa ”poncho” sendiri2. Persediaaan makanan Team untuk 3 hari termasuk nasi, abon, ikan asin, kopi, teh, susu , gula dan gula jawa, serta beras seadanya. Untuk persedaan air dibawa lebih dari cukup untuk perkiraan lebih dari sehari perjalanan.Berhubung tugasku akan orientasi medan- naik turun dan menerabas rintangan yi pohon , semak dan pakis merambat, maka selain perlengkapan jalan aku hanya membawa peta, kompas dan alat2 penerabas hutan saja; perlengkapan lainnya  dibagi secara merata pada  Atang, Ian dan Toro. Karena ’titian alam’ ini belum pernah dilewati manusia sebelumnya, maka sepanjang hari kami bergerak maju dengan pelan tetapi pasti. Dan setelah mahgrib kami  masih  belum melewati bagian yang sulit berupa  tebing tanah berpasir yang rapuh, mudah longsor dan terjal menuju kaki kerucut puncak Salak -1, menerabas pakis merambat yang menyebalkan dan sangat menguras tenaga.
Tiba2 turun hujan lebat,  terpaksa kami harus menudungi seluruh badan dan beban dengan ponco masing2 sambil melanjutkan pendakian dimalam dingin yang semakin gelap gulita. Sekitar jam 20:00, masih ditengah hujan lebat kami harus mendaki bagian terjal yang rapat ditumbuhi pepohonan.   Pada saat tertentu kami terpaksa harus istirahat sejenak- masing2 terpaksa harus duduk memeluk sebatang pohon agar tidak merosot dengan kaki tergantung. Lampu kapal dinyalakan agar kami bisa mendapat penerangan, Tak lama kemudian Halilintar mulai datang sabung menyabung, sebegitu kerasnya sehingga lampu kapal tiba2padam kena getarannya, membuat kami tambah khawatir dan masing2 berdoa mohon pertolongan Tuhan. Terpaksa malam itu kami tidur diatas pohon dengan kaki bergantungan. Walaupun semua capai kehabisan tenaga tetapi tak seorangpun bisa tidur dengan nyenyak dalam posisi was-was sedemikian. Ketika fajar mulai menyingsing kami sepakat segera melanjutkan pendakian.di pagi itu Tidak disangka rupa2nya puncak Salak-1 degan triangulasinya hanya terletak sekitar 20 m diatas tempat kami istirahat diatas pohon.
Perasaan terasa legah dipagi itu dan segera kami dirikan bivak, memasak makanan hangat dengan persediaan air yang lebih dari cukup-sebab waktu hujan semalam, kami sempat menampung  dan menambah persediaan air.
Selanjutnya kami turun arah ke Cidahu dan berjalan kaki sampai Cicurug, sebab dimasa itu pengankutan masih sangat langka... . .

Kemudian masih beberapa kali aku mengadakan Pendakian dan Penyeberangan dari Gunung Salak-2 ke Salak -1 seorang diri., sehingga Penduduk sekitar Warung- Loa, antara lain Pak Mun yang punya kandang kerbau dibatas hutan karet, pertigaan jalan ke Cihideung tempat ku sering menginap sudah ’tidak aneh’ melihat aku datang dan mendaki Gn Salak-2 sendirian, untuk tidak turun kembali; selanjutnya tiba2 satu dua minggu kemudian muncul lagi dari Jakarta untuk lakukan hal yang sama.

Pada bulan September 1969, bersama Toto B.H.Samekto (M-023 UI), Sofyan Taib.alm (M-052-UI) dan Idhan Lubis alm (MK-0058-UI) kami menuruni Salak-2 arah barat ke Gn Bundar  kemudian jalan kaki sepanjang malam untuk mencapai jalan raya Ciampea pada jam 05:30 pagi.Dalam peristiwa  itulah  Idhan Lubis alm, mendapat inspirasi menulis sajaknya yang berjudul ”Djika Berpisah” untuk ku pada tanggal 8 Des 1969 di Polonia.

Pada tgl 25, 26 dan 27 Oktober 1969, aku ditemani Tides Katoppo (MK-050-UI), saudara sepupunya Rommy Katoppo alm dan Idhan Lubis alm (MK-058 UI).menyeberangi ”titian alam” Salak-2 ke Salak-1 dan turun ke Cimelati; Kurang dari dua bulan kemudian, pada 16 Desember 1969, Idhan bersama Soe Hok-gie (M-007- UI) mendaki Gn Semeru untuk tidak kembali, sebab mereka naik terus pergi menghadap si ”Maha Pencipta”.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

 Herman,Rommy Katoppo alm dan Idhan Lubis alm di Triangulasi Salak-2. ”Bowie knife” yang dipakai Idhan, adalah Perlengkapan Utama kami menuruni tebing terjal gn Salak waktu itu-1969



Tiga puluh tahun yang lalu, terahir kalinya ku melakukan penyeberangan dari Salak-2 ke Salak-1 melalui ”titian alam”ini, yaitu pada thn 1983 diumur 43 thn, ketika itu telah menikah, - rencana akan mendaki sendirian lagi, tetapi ternyata ahirnya didampingi adik-ku (lain Ibu & lain Bapak yaitu) H.Iwan Tofani Ilyas SH- (M-194-UI), yang juga merupakan sebagai salah satu sahabat karibku. Pada hari pertama kami camping dipuncak Salak-2, setelah seharian mengadakan penyeberangan ke Salak-1, kami Campimg lagi semalam dekat tiang riangulasi Salak-1. sebelum turun dan mandi pada anak sungai digunung dengan airnya yang sejuk dan jernih, baru langsung turun ke Cicurug, melalui Cangkuang- Cidahu.

Komentar2 & SMS : 
  • Bachrun Suwatdhi- (ML 031 UI)- anggota Survey team 4 org MAPALA FSUI awal 1969- mantan wartawan Senior majalah Tempo.                                                                                                 SMS pada 14 May 2012; 14:14 pm : ” Man, saat nyasar 3 hari di gn Salak (awal thn 1969) pengalaman yg tidak terlupakan, kalau nggak sama anda pasti kita2 akan hilang, karna pengalaman masih nol.”                                                                                                                                         HOL: ”Hanya karena Kasih karunia dan Penyertaan Tuhan kita bisa Selamat waktu itu, bukan krn ama gw”
  • Janatan Ginting- First Indonesian Seven Summiter Mahipala-team member.                                        15 May 2012 ,11:26 am : ”Menjuah-juah, Opung Herman punya pengalaman lapangan yang hebat, bisa nurunin tebing gunung Salak itu, pasti opung orang  yang kuat  fisik dan mental ketika muda ”                                                  HOL: “Gak juga Jan, keadaan fisik sih biasa2 aja, dan ‘kepala batu” sih sama dengan kau, karna pengalaman adalah guru yang terbaik dan kami harus bisa lolos dan  ‘karena terpaksa sebab sudah terlanjur turun gak bisa naik lagi waktu itu, dan terutama karena - menyangkut  Hidup atau Mati; cuma punya dua pilihan:’Minta pertolongan Tuhan (agar dikuatkan Iman dan dikaruniakan hikmah  kebijaksanaan) dan berihtiar kreatif memakai akal&logika, yang  disertai latar belakang Pengetahuan, Keterampilan dan Pengalaman, maka akan diberi kesempatan untuk à Hidup (Survive) atau : "Menyerah tanpa berusaha, sama dengan menyerah pada Nasib  à Mati".


NB:  Waktu menuruni tebing ratusan meter tsb, mula2 kami ’secure’( amankan) dengan mengikat tunggul pohoh (yang tinggi), baru menebangnya sehingga posisi pohon dalam keadaan terbalik, tunggul diatas- pucuknya ke bawah, baru kami ”anchor’ tunggul itu dengan akar2 gantung atau tali terbuat dari kulit pohon agar tidak meluncur lepas, baru kami ’climb down’/descend, merangkak-turun melalui cabang dan ranting pohon yang ditebang tsb.Kami melakukan cara yang sama berulang2 sampai bisa mencapai dasar lembah; begitupun ketika melewati pinggiran2 air terjun.sepanjang aliran s Ciapus.selama dua hari sebelum tembus kemedan yang konturnya lebih landai.

Sabtu, 04 Februari 2012

Inilah Jalan Hidup Kami (Copy Artikel)

Diambil dari
"Suplemen Petualang GEMA, 31 Oktober 1995, Kolom JEJAK"

(Klik pada gambar untuk memperbesar)

(Klik pada gambar untuk memperbesar)


Inilah Jalan Hidup Kami bagian 2


Diambil dari
"Suplemen Petualang GEMA, 31 Oktober 1995, Kolom JEJAK"

T: Kapan tepatnya anda dilantik menjadi anggota Mapala?

Tepatnya pada 1966, ketika saya melepaskan jabatan Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pagi masa jabatan saya habis, siang harinya langsung dilantik ditempat atas permintaan sendiri oleh Ketua Mapala Edhy Wuryantoro di Taman Fakultas Sastra dekat Empang, Rawamangun.

Setelah itu pada tahun 1967-1969 saya berangkat ke pedalaman Irian untuk melakukan Riset Anthropologi guna keperluan Skripsi saya selama kurang lebih dua tahun saya tinggal bersama dengan masyarakat Dani, sampai—sampai saya terbiasa dengan kegiatan keseharian mereka, mulai dari berbicara,makanan dan mengenakan koteka (sesekali)

T: Menurut anda sejak kapan istilah Pencinta Alam muncul?

Istilah Pencinta Alam tercetus denan sendirinya secara alami. Sebab yah . . . “that’s what we are doing” itulah yang kami lakukan

Menurut saya dunia kepencinta alaman lebih bersifat Filosofis dan merupakan “Way of Life” yang harus benar-benar dihayati. Bagi saya pribadi dunia kepencita alaman ‘ya itu tadi merupakan “way of life“ kami.

T: Pengalaman yang paling berkesan selama melakukan petualangan?

Saya sangat tersan ketika melakukan Pendakan yang pertama kepuncak Jaya, ini merupakan Ekspedisi pendobrak dan ekspedisi pertama Mapala UI ke Pegunungan Jaya Wijaya di Irian Jaya pada 1972. Pada waktu itu walaupun Rektor kami (Prof.Soemantri Brojonegoro) yang merangkap Menteri Pertambangan pada awalnya sempat khawatir, pasalnyabeliau—yang pernah menyaksikan jajaran pegunungan Jaya wijaya dari helicopter—mengatakan betapa sukarnya gunung tsb didaki dan berisiko sangat tinggi. Tetapi karena kami berhasil meyakinkan beliau akhirnya kami diizinkan berangkat. Yang paling mengesankan buat saya adalah ketika perjalanan memasuki hari keempat. Dari tempat tsb kami dapat melihat dari kejauhan gumpalan salju pada Pegunungan Jaya wijaya. Spontan saya tidak dapat menahan cucuran air mata saya melihat hal tsb. Rasa haru dan bangga menyelimuti perasaaan kami semua. Apalagi ketika kami berhasil menggapai puncak yaitu : Puncak Jaya, Puncak Tengah (“Middle Peak”) dan Carstens Timur.

(Foto Ekspedisi Pertama Mapala UI ke puncak Jaya 1972)


Kegiatan selain mendaki gunung?

Selain mendaki gunung saya pernah juga melalukan kegiatan Arung Jeram di sungai Citarum (awal thn 1970-an) dari 11 x, lima kali saya terpental dari perahu, dan sampai saat ini saya tidak pandai berenang. Selain itu juga kegiatan panjat tebing dan yang berhubungan dengan kegiatan dialam bebas.

(Foto:1976 Bersama Karina Arifin ,istri Norman Edwin latihan di Citatah.)

T:Apa yang dilakukan untuk menerapkan rasa cinta alam kepada keluarga, terutama pada anak?

( Foto1989 bersama keluarga di Arcopodo)

Setiap ada waktu senggang (liburan)saya selalu mengajak keluarga saya(anak dan istri) untuk bermain di alam, seperti kemping dan mandaki gunung. Sebab menurut saya, untuk dapat mengenal, mempelajari,mengerti segala sesuatu tentang alam, sampai ahirnya kita mau menghargai alam harus terjun langsung ke alam atau bersifat “by doing and by feeling”

Lihat halaman sebelumnya : Inilah Jalan Hidup Kami bagian 1

Diambil dari "Suplemen Petualang GEMA, 31 Oktober 1995, Kolom JEJAK"


Inilah Jalan Hidup Kami bagian 1


Diambil dari
"Suplemen Petualang GEMA, 31 Oktober 1995, Kolom JEJAK"

Buat Herman O.Lantang, dunia petualangan bukanlah sesuatu yang baru.Ia sudah mengenalnya sejak masa kanak-kanak lewat cerita petualangan Tom Sawyer, Old Shutterhand, Karl May, sampai buku kepanduan Lord Baden Powell.

Herman mengaku cerita-cerita itulah yang menggugah dan sampai kini, tak terasa sudah 31 thn ia menggeluti hobbynya itu.Berikut wawancara penulis, Hery Luthfi (mantan ketua Mapala UI) dengan Herman O.Lantang di kediamannya di daerah Lenteng Agung, Pasar Minggu.

(Kawah Gunung Gede, 1977)


T: Bagaimana sampai anda terjun kedunia Pencinta Alam?

Kebetulan ketika saya masih kecil sangat mengandrungi cerita-cerita petualangan Balai Pustaka, seperti Tom Sawyer, Old Shutterhand, Karl May.

Pada waktu itu cerita-cerita petualangan sangat digemari terutama oleh anak-anak. Yah, mungkin kalau sekarang seperti Power Rangerlah. Cerita-cerita itulah yang menggugah minat saya untuk bertualang.

T: Selain itu?

Menurut saya kegiatan kepencinta alaman identik dengan kehidupan di Alam bebas. Di alam kita bisa menjadi apa adanya.Tidak perlu berbasa basi yang terlalu dipaksakan, tidak terikat dengan etiket pergaulan yang kaku dan tidak gengsi-gengsian. Pokoknya segala sesuatu yang tidak dipaksakanlah.

Saya sangat terkesan dengan cuplikan puisi yang ditulis oleh sahabat saya Soe Hok-gie tentang hal ini, yaitu:” . . . Kau terima aku dalam keberadaanku . . . ”.

T: Selain itu apakah faktor lingkungan seperti rumah atau kelompok ikut berperan?

Ketika saya masuk Fakultas Sastra UI pada 1960-an, saya berteman dengan Parsudi Suparlan, Ayat Rohaedy, Soe Hok-gie dan banyak lagi.

Pergaulan saya dengan mereka secara otomatis membentuk kami tidak menjadi sinyo-sinyo seperti kebanyakan anak-anak daerah Menteng pada waktu itu (tempat tinggalnya) tetapi saya lebih senang dengan kegiatan ke alam seperti berjalan kaki menyusuri sawah dan kegiatan semacam itu.

Dari situlah mulanya saya menggemari kegiatan yang bersifat kecinta alaman.Walaupun kegiatan ini sangat kontradiktif dengan kehidupan keseharian saya dirumah.

Kalau dirumah saya termasuk anak baik-baik yang sebelum tidur harus mengunakan piyama. Tetapi kalau diluar rumah saya lebih menyukai kehidupan dialam yang penuh dengan kesederhanaan. Semua ini juga karena terdorong oleh rasa keingintahuan saya terhadap sesuatu yang terdapat dialam, diluar rumah.

T: Pada waktu itu kegiatan apa saja yang dilakukan?

Banyak sekali sebagai contoh pada 1962 saya bersama dengan Parsudi melakukan kegiatan Survival dikawasan pantai Marunda yang masih sangat alami. Walaupun saat itu kami belum mengenal istilah Survival.

Satu pekan saya disana hanya berbekal beras dan perlengkapan yang sangat minim serta hanya mengandalkan makanan yang terdapat didaerah tsb seperti mengumpulkan kerang yang kemudian kami masak dengan kayu bakar(“drift wood”)

T: Lalu bagaimana perembangan kelompok itu selanjutnya?

Pada waktu itu kebetulan kami bertemu dengan kelompok Maulana, Ratnaesih (Sekarang dosen di FIB UI) dan dari situlah terbentuk Mapala Prajnaparamita (khusus Fakultas Sastra UI) pada 1964.

Pada waktu itu kegiatan kami hanya terbatas kepencinta alaman saja, belum mengarah ke pendakian gunung yang merupakan sesuatu yang sangat berbahaya.Pendakian gunung baru dimulai beberapa saat kemudian. Kemudian perkumpulan itu berkembang menjadi MAPALA UI tepatnya pada 1971, dan ketika itu saya terpilih menjadi Ketua Mapala yang sudah se-Universitas Indonesia.

Walaupun sebenarnya hal itu rintisan dari penggabungan beberapa Organisasi Pencinta Alam tingkat Fakultas seperti Impala Fakultas Psikologi UI, Track and Climbing (FKUI),CATACK- Climbing and Tracking (FE-UI) dan Yeksastufa (FT-UI) Perkumpulan itu ada juga setelah terjadi musibah hilangnya mahasiswa FKUI di Gn Pangrango. Dari beberapa rekan yang terlibat SAR pada waku itu, mereka berharap agar kekompakan yang sudah terbina dapat disatukan.

(foto; 1970, Herman membuat bivak pada SAR Willy & Arief, mahasiswa FKUI)



Jumat, 20 Januari 2012

Our Way of Life

"Bagi saya pribadi, dunia kepencitaalaman adalah jalan hidup kami"
Herman Lantang

Foto: thn 2011 Herman Lantang menjelang 72 thn , latar belakang Taman Nasional gunung Gede-Pangrango. - yang nampak seperti meja , didepan kawah Gn Gede adalah Gn Rumpang.


Artikel dalam majalah GEMA Olah Raga, thn 1995, berjudul “Inilah Jalan Hidup Kami”;


Pada saat ini Dr Ayat Rohaedy dan Prof Parsudi Suparlan PhD, telah menyusul Soe Hok-gie ke alam baka dan Herman Lantang telah pensiun dari pekerjaan sebagai Konsultan Lapangan/Drilling Fluid Engineer, di Pengeboran minyak dan Gas bumi , namun “Way of Life”-nya tetap sama, malahahan berniat akan lebih mendekatkan diri ke Alam dengan menetap sebagai “Camp Counselor” merangkap “Farmer” di “Herman Lantang Camp” (HLC), yang berbatasan dengan Taman Nasional gunung Halimun-Salak (TNHS), dalam waktu dekat.

HLC, Sawah dan koleksi pohon buah langka, berbatasan dgn TNHS.

Foto: Akhir thn 1966 setelah meletakkan jabatan sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI, Herman minta dilantik menjadi Anggota Resmi MAPALA, dengan mendapat No Anggota: M-016, dibawah pohon Akasia ini ; dalam foto Maman Abdul Rachman(M-014 )dan Soe Hok-gie(M-007) thn 1968.

Foto dibawah diambil pada bulan Juli 1981, terakhir kalinya Herman ke Pegunungan Jayawijaya, memimpin Komisi Tehnis Mapala-UI ditemani oleh Sofian Taib (M-052-UI) dan Wisnubroto. (M-140- UI).dalam Pendakian ke Carstens Pyramid, pasca Musibah Hartono Basuki (M-161-UI), lebih dari 30 thn yang lalu.


Lihat juga Artikel yang dimuat dalam majalah GEMA Olah Raga, thn 1995

Sabtu, 07 Januari 2012

Artikel "Original Copy" Pernyataan (ungkapan) Cinta dan Mas Kawin



“Pernyataan cinta dan Mas Kawin” di lembah Heage, pedalaman Papua. Oleh: Herman Lantang.

Adapun Artikel pendek ini,pernah diterbitkan dalam  harian umum SINAR HARAPAN, di Jakarta.Senin, 16 Juni 1969 (hlm III),berjudul "Pernjataan Tjinta" Dan Mas Kawin" a  la Lembah Heage, sebuah kisah dari daratan Irbar

Gambar: 1 dan 2: Nyapele'ma  menarikan gerakan2 "ungkapan cinta"- pada gadis pujaannya diseberang  sungai, saat pembangunan “ jembatan gantung” melintasi sungai Baliem

    
Gambar 3:” Heselum”,  pada kedua tepian sungai, didaerah Jurang-jurang Baliem.
  

Gambar. 4:Herman Lantang,  ikut berpartisipasi,Nampak  paling belakang dari kelompok penari “Heselum” permainan mencari jodoh –( gambar ini  untuk pertama kali dipublikasikan untuk umum).




“Love expression and Bride Price” among the Heage-Dani, Inland Papua. by Herman Lantang.



This short article was published in the Jakarta Daily Newspaper : SINAR HARAPAN,. Monday June 16.1969 (page III), 
"Pernjataan Tjinta Dan Mas Kawin" a la Lembah Heage, a story from the inland of New Guinea.

Photo 1 and 2 :Nyapele'ma, dance to express his love and passion to his lover at the other side of the river, during the construction of a suspension bridge across the the Baliem river..




Photo 3:” Heselum”, a mating game dance, at the bank of the river at the Baliem Gorge.


Photo 4:Herman Lantang participating in a mating game dance, called-:" Heselum”, seen at the back of the dancing group ( left).- picture. published for the first time.




Kamis, 05 Januari 2012

Petualang Tua Dengan Jiwa Yang Berkelana

Oleh : Jekson Simanjuntak
Mengenal sosok yang satu ini seakan membawaku menerawang lebih jauh pada kejadian yang terjadi puluhan tahun silam, ketika gerakan mahasiswa mulai di catat dalam sejarah. Dia bersama sobatnya “Soe Hok Gie” lebih memilih berkecimpung di alam, ketimbang menjadi pecundang yang berlagak sok jagoan dan pura-pura berpihak pada rakyat.


Saya masih ingat saat itu, di suatu musim di waktu yang lalu, secara tak sengaja kami bertemu muka dengannya. Tepatnya, tiga tahun lalu, kami berhasil mendahuluinya dalam sebuah tanjakan kecil menuju air terjun Cibereum – Cibodas (Jawa Barat). Saat itu terlihat jelas kelelahan di wajahnya. Walau begitu, di usia yang genap mencapai 63 tahun, semangatnya masih tetap sama, seperti ketika pertama menapak di jalur itu puluhan tahun silam. Kala itu, bersama sahabat karibnya yang begitu melegenda “Soe Hok Gie”, mereka membuka jalur baru menuju Puncak Gn. Pangrango melewati kawasan tersebut.

Hari cukup cerah kala itu, di tandai dengan silau sang surya yang menyerusuk masuk di celah-celah pepohonan hutan sekunder Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Berdua dengan dengan seorang sahabat, kami menghadiri undangan Penerimaan Anggota Baru Mapala UI yang rencananya akan di gelar di air terjun Cibereum – Cibodas.

Sejatinya, tak jauh dari pintu rimba, kami telah melihat sosoknya yang renta berjalan perlahan dengan seorang tua lain yang ternyata masih sahabatnya, menapak beriringan ditemani seorang wanita muda yang belakangan ku ketahui, ternyata anggota Mapala UI (MUI) yang bertugas untuk sebagai pemandu bagi kedua orang tua tadi.

Sadar kami telah melaluinya, dalam kesempatan istirahat, kami bertemu lagi dengan rombongan kaum tua tadi. Kali ini, mereka berhasil mengejar ketertinggalannya, setelah istirahat terlalu lama. Terhadap wanita tadi, ternyata sang teman pernah bertemu dengannya di sebuah kesempatan. Singkat cerita, pertemuan itu menjadi perjumpaan kami yang pertama, dengan tokoh yang namanya begitu melegenda.

“Siang om, istirahat dulu, ntar lanjut lagi!”, sapaku sebagai pembuka pembicaraan. Dengan wajah sinis, ia langsung membalas; “emang gua om lu!”. Di balas dengan perkataan demikian, saya langsung memutar otak. Kira-kira apa yang salah dengan ucapan saya, ya? Belakangan kami ketahui, ternyata orang tua itu, tak senang bila di panggil dengan sapaan om, apalagi bapak. Dia lebih senang di panggil “abang” seperti sebutan untuk dirinya puluhan tahun silam. “biar lebih akrab”, kilahnya. Padahal di usia senja sekarang ini sebutan om, paman, bapak or opa sepertinya lebih layak untuk dirinya.

Sejak kuliah dulu, nama itu begitu lekat dengan tokoh-tokoh penggemar kegiatan alam bebas pertama di Indonesia. Maklum saja, mereka mulai menggelutinya sejak dekade 60-an, ketika gerakan mahasiswa mulai terpecah, dimana banyak diantaranya memilih sebagai oportunis ketimbang menjadi pejuang sejati. Tak banyak diantara mereka yang eksis sebagai demonstran, seperti Soe (baca: Soe Hok Gie) dengan sahabatnya Herman Lantang, yang ternyata memiliki hobi unik, yakni mendaki gunung.

Menyebut nama terakhir, mungkin tak banyak orang yang pernah tahu. Namun, bagi aktivis alam bebas dan komunitas pencinta alam, nama itu telah menjadi semacam ikon, tentang petualang generasi pertama yang dimiliki Indonesia.

Aku juga masih ingat betul dalam buku Norman Edwin yang berjudul “Mendaki Gunung Sebuah Tantangan dan Petualangan”, fotonya terpampang gagah, ketika mengajar anak-anak baru Mapala UI di sebuah tebing batu di kawasan Citatah – Jawa Barat. Di foto itu, ia terlihat duduk di sebuah teras kecil, sembari melakukan belay atas (baca: pengaturan tali dari atas) menuntun pemanjat pemula di bawahnya.

Tiba di Base Camp

Sepanjang jalan menuju base camp yang di dirikan tak jauh dari air terjun Cibereum, kami saling bercengkerama tentang petualangannya yang sangat melegenda. Seperti sudah kuduga, ia tetap rendah diri, dengan menganggap semua petualangannya tak lebih dari pengenalan diri sendiri ketika bersahabat dengan alam. “alam tak kan pernah sanggup kita taklukkan”, imbuhnya.

Di sebuah kesempatan, ia juga bercerita banyak tentang pendakiannya ke Carstenz Pyramid di Papua pada era 70-an. Saat tak banyak orang pernah menggapai puncaknya yang selalu terselubung es abadi, mereka dengan nama besar Mapala UI, menjadi manusia indonesia pertama yang menginjakkan kaki disana.

Walau begitu, selalu saja ada cerita unik yang mengikuti petualangan mereka. Di sebuah tempat istirahat yang aku sendiri sudah lupa berapa kali berhenti sejak yang pertama, saking terlalu seringnya istirahat, Bang Thaib – sebutan untuk teman tuanya yang satu lagi- mulai bercerita, tentang betapa beraninya Herman Lantang kala itu.

Saat melakukan pendakian perdana di bumi cendrawasih, mereka (baca: MUI) hanya bertiga, yakni; Thaib, Herman dengan seorang lagi yang aku sudah lupa namanya. Di sebuah kesempatan, Herman sempat mengejar-ngejar seorang porter dari suku papua, yang mereka anggap keterlaluan. Pasalnya, setelah semua diberi, baik honor guide, pakaian serta perlengkapan, ia masih memprovokasi anggota porter yang lain untuk protes. Sontak, Herman yang saat itu darah mudanya gampang menyala, langsung menuding orang tersebut. Bahkan, tidak puas dengan aksi itu, ia malah mengejar orang papua tersebut dengan golok terhunus. Melihat itu, si papua langsung lari tunggang langgang menuju desa dan tak kelihatan lagi batang hidungnya, bahkan sampai ekspedisi mereka selesai.

Thaib, yang melihat aksi nekat tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala. Gak percaya temannya bisa melakukan aksi se-nekad itu. “ Emang dia dasar edan, orang papua di kejar-kejar pake golok. Padahal, kalo mereka mau melawan, mungkin bisa aja. Wong kita cuma bertiga, sementara mereka jumlahnya puluhan orang”, tukas Thaib di sela-sela pembicaraan kami kala itu.

“justru itu, gua berani! Lagian dia yang salah, dia juga bukan koordinator porter dan porter yang lain tak ada yang protes alias semua fine-fine aja. Eh, malah dia yang nyolot. Langsung aja gua kejar, biar dia tahu rasa” sahut Herman kemudian.

Mendengar itu aku, hanya senyum-senyum sendiri. Dan, biasanya, cerita-cerita seperti ini tak pernah keluar di laporan perjalanan, apalagi di media massa.

Tak puas dengan cerita itu, kisah mereka masih berlanjut dengan cerita lain yang tak kalah seru, seperti ketika pendakian ke Gn. Semeru memperingati 30 tahun tragedi yang merenggut nyawa putra terbaik bangsa – Soe Hok Gie- dan seabrek petualangan yang mereka lakukan di tanah air. Dari sekian banyak, salah satu yang masih saya ingat adalah pendakiannya ke Gn. Kerinci di tahun 2000, yang sempat menghebohkan banyak kalangan. Pasalnya, usia lanjut, menjadi salah satu kekhawatiran para ranger yang menjaga gunung tersebut.

Seperti biasa, jarak yang jauh, selalu saja tak terasa, jika dilalui dengan perasaan gembira. Sama seperti saat itu, tak lama berselang, kami pun berhasil menggapai base camp yang ternyata telah di penuhi oleh anggota MUI yang lain. Beberapa buah tenda tampak menghiasi kawasan yang berada persis di sebelah jalan.

Sejurus berlalu, kami pun sibuk dengan aneka kegiatan, mulai dari mendirikan tenda hingga memasak. Sementara itu, secara perlahan pancaran sang surya mulai menjauh berganti gelap yang berpadu indah dengan ribuan orkestra jangkrik hutan.

Sungguh, aku rindu suasana seperti ini.

Dikutip dari



Kirimkan pengalamanmu bersama Herman Lantang dalam bentuk artikel
E-mail : hermanlantangartikel@gmail.com

Konfirmasi pengiriman artikel via sms
087887889357
(Editor)