Senin, 18 Maret 2013

TEMU WICARA DI UNIVERSITAS HASSANUDDIN- MAKASSAR: 27 Feruari - 5 Maret 2013



Tgl 27 Februari- 5 Maret 2013. Dalam rangka Acara Lomba Cross Country Wisata ke XI, Himpunan Mahasiswa Geology-Fakultas Tehnik UNIVERSITAS HASSANUDDIN –Makassar, yang didakan di hutan wisata “Bulu Batu Garincing” dikabupaten Barru, Propinsi Sulawesi Selatan. Oleh Ketua Panitia Pelaksananya yang aktif, seorang anggota KORPALA (Korps Pencinta Alam- Universitas Hassanuddin) saya  diundang, untuk mengadakan semacam “talk show”- temu wicara, yang mana sedianya saya diminta mengadakan  Seminar tentang Pencinta Alam, sebab sebagian besar pesertanya adalah   Pencinta Alam, perwakilan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan, Tengah, Toraja, Kendari, Bau-Bau, sampai Palu bahkan Gorontalo.

Panitia bekerja keras, maksimal dan acara cukup tuntas, tetapi banyak pelajaran yang  kami dapatkan selama itu.
Ketua Panitia adalah Irwinsyah A. Eato, mahasiswa Geologi, semester ahir, berasal dari Palu. Dibantu oleh kawan2nya a.l. Acho Muh. Basni,  serta Alpiuz Mantong, Adnan Iswandi, Arsyad, Ilham Alimuddin, Imam Septian, dll
Walaupun Ketua Panitia pelaksana adalah anggota KORPALA, tetapi sebagian besar penyelenggara adalah anggota Himpunan Mahasiswa Geologi dan yang bukan “Pencinta Alam” sehingga mengabaikan Kode Etik Pencinta Alam dalam kegiatannya di Alam ini, ditambah lagi nilai-nilai budaya setempat yang berlatar belakang  tradisi feodalisme masih kuat dipertahanlan dalam lingkungan kampus; dimana para Seniornya sebagian hanya bisa menuntut disiplin padahal diri sendiri tidak berdisiplinmenuntut dan hanya memerintah padahal diri sendiri tak sanggup laksanakan apa yang diperintahkan, kondisi yang menurut saya sangat memprihatinkan.

Sejak Pembukaan, saya yang dijadwalkan jadi Pembicara terahir, diajukan menjadi Pembicara Pertama, sedangkan Ruang Auditorium yang luas dan mewah itu Penyusunannya seperti  Ruang  Sidang PBB atau MPR dimana disediakan Sofa empuk buat VIP-sedang Pembicara mendapat tempat terhormat diatas Panggung. Saya  akan merasa lebih nyaman dalam ruang ¼ kali itu semua duduk dilantai dalam lingkaran satu saf dan saya berdiri ditengah dan dapat  mendekati dan menyapa para penanya  satu persatu secara pribadi dan akrab, seperti yang sering kulakukan ditempat lain.

Duduk berpartisipasi dalam acara ini hanya terbatas team-team peserta sebanyak sekitar 30-an team terdiri dari 4-5 anggotanya, sedangkan Panitia yang ratusan anggota tak nampak (dari panitia pelaksana dalam kenyatannya hanya beberapa puluh orang yang sibuk.)


Pembukaannya dimulai dengan penayangan “ Selamat Pagi Indonesia‘, sebuah feature yang pernah disiarkan ANTEVE pada thn 2007, tentang siapa Herman Lantang, untuk menarik perhatian Partisipan yang sulit sekali dikumpulkan, selanjutnya BIODATA dan slides  tentang diri ,keluarga dan petualangku di Alam. Disusul langsung dengan temu wicara, dimana penanya kupersilahkan maju kedepan dan berdiri disamping saya perkenalkan identitas diri disusul apa pertanyaannya;

Karena waktu terbatas hanya  lima pertannyaan saja yang diajukan, yang kujawab secara langsung dan luas.
1.Ansor dari Kendari: Bagaimana memaknai  arti Pencinta Alam itu sendiri?
2. (?): Bagaimana hubungan dari ketiga Divisi; Mountaineering,Caving dan Climbing sesuai Perkembangan Zaman ?
3.Ardianto, Mapala- Bau-bau: Pengalaman paling menarik saat membangun Mapala UI
4. Apakah Soe Hok-gie, salah seorang pendiri Mapala-UI seorang Politikus?
5. Aprilia- Unhas : Ceriterakan pertemuan Opa Herman dengan istri.

Setelah acaraku usai,peserta  langsung diberi materi tentang SAR yang dibawakan oleh  Donny Saluling dan Walid Mazdo, anggota WANADRI yang bermukim di Makassar.
Ahirnya  menjelang Penutupan baru muncul Wakil Pembawa materi tentang “Lingkungan Hidup”
Saya menawarkan diri untuk memberi kesempatan“Temu Wicara” lagi di Lapangan acara “Cross Country Wisata”, yang disambut baik oleh Panitia Pelaksana, tetapi ternyata kemudian‘kurang tepat’juga, sebab sebagian peserta  sedang siap-siap berangkat Start mengikuti lomba walaupun sudah malam dan sebagian lagi baru kembali dalam keadaan penat. Ternyata dari ratusan Peserta Lomba Cross Country,yang berada dilapangan hanya segelintir saja yang bisa ikut ‘temu wicara’ kali ini yi a.l Peserta dari Gorontalo dan beberapa anggota Panitia Pelaksana yang berminat. Total kurang dari 20 Orang.

Beberapa  pelajaran yang kami dapatkan dari Acara Ini:
  • Kegiatan di Alam terbuka termasuk “Lomba Cross Country Wisata” untuk menggalakkan Tourisme di daerah, bilamana dilakukan di Hutan Wisata atau Cagar Alam- mutlak harus mematuhi Peraturan2 Taman Nasional, Cagar Alam ataupun Hutan Wisata seperti tertera dalam “Kode Etik Pencinta Alam” Walaupun disponsori oleh Himpunan Mahasiswa Geologi- FT-UNHAS, Hendaknya KORPALA UNHAS yang bertanggung jawab dan berperan penuh (mutlak) dilapangan menjaga jangan Kode etik Pencinta Alam dilanggar.
  • Selalu utamakan “Safety” dalam kegiatan di alam terbuka untuk Tidak mengadakan kegiatan perjalanan “Cross Country Wisata” di malam hari , kecuali di dalam keadaan darurat.(Dalam keadaan malam dan gelap telah terjadi kecelakaan yang membuat peserta cedera dalam acara ini) demikianpun menyangkut “Safety”, hanya satu mobil sewaan, dan satu pengemudi  (Alpiuz) yang menangani mengantar saya dan dimalam hari harus bertugas dilapangan, sehingga dia “ over exhausted” terlalu capai mengakibatkan terjadinya tabrakan hebat dan kerugian besaralhamdulillah tak ada korban jiwa.

Menjadi pertanyaan bagiku: Apakah motivasi mengadakan “Lomba Cross Country Wisata” di Hutan Wisata Bulu Batu Garincing”, sebuah cagar alam, dengan iming-iming hadiah jutaan rupiah,
Apakah agar Para Pencinta Alam  lebih mendekatkan dirinya mencintai alam Tanah air kita Indonesia, atau tujuan mencari sensasi yang “terhebat” atau “terseru”? untuk mecapai MURI, tanpa  memperhitungkan  faktor risiko dan safety?



                            

Konon para senior HMG-UNHAS pada mulanya , ingin mendatangkan selibrity cantik Rianny Jangkaru, reporter Jejak Petualang, untuk jadi pembicaratetapi Para Pencinta alam putuskan mendatangkan saya untuk berbagi Ilmu tentang kegiatan dan pengalamanku sebagai seorang  “Pencinta Alam”sejak tahun 1964.

Bersama ini pula saya lampirkan sebuah surat yang ditulis pada bulan Desember 1965 oleh  seorang tokoh “Pencinta Alam Indonesia  sejati dan juga seorang tokoh Geologi Indonesia bertaraf Internasional”: Prof Dr. M.T.Zen (Alumni Jurusan Geologi, Fakultas Tehnik  Universitas Indonesia di Bandung, sekarang ITB) M.T.Zen-umur 84 thn, adalah seorang Budayawan, Sejarahwan, ahli Matematik dan Fisika, Geolog dan Vulkanolog terkemuka, seorang Humanis dan penulis ilmiah maupun populer, pernah menjadi Penasehat Men RisTek Habibie waktu yl.yang juga  menjadi guru dan motivator alm Soe Hok-gie dan saya mendirikan MAPALA-UI pada thn 1964. 
Suatu teladan dan perlu jadi renungan Para Geolog masa depan Indonesia yang kita Cintai,


                                                                                                                Bandung, 29 Desember 1965
Sdr. Mapalawan/Mapalawati  Jth:
   Pada saat terahir mendjelang pergantian tahun ini perkenankanlah aku untuk menjampaikan: ”Selamat Tahun Baru dan Selamat berhari Natal”
Dimeja tulisku terdapat beberapa copy dari majalah Mapala. Dengan perasaan jang tulus ichlas ku hendak menjatakan keterharuan serta kebanggaanku atas usaha kalian, karena aku dapat mengetahui dari pengalaman sendiri betapa sulitnja bagi mahasiswa Indonesia untuk menerbitkan suatu organ jang sebagaimana sederhana bentuknja.
Selanjutnya, selain dari mengutjapkan Selamat tahun baru ku sangat berharap  bahwa tahun 1966 dapat memberikan kesuburan dan kedjajaan yang lebih memuaskan bagi Mapala dalam arti kata Semoga semakin banjaklah pengikut-pengikut Mapala dan semakin banjak pula puntjak2  jang engkau taklukkan, semakin banyak lembah2 perawan yang engkau tempuh dan semakin banjak pulalah air sutji jang dari sungai dipegunungan jang dapat engkau hirup.
Ingaltah engkau Mapalawan/Mapalawati bahwa dimanapun engkau berada, dalam perdjalananmu, betapapun terdjalnya dinding lembah jang harus kau lewati, betapa tinggi puntjak yang harus kau daki, ingatlah bahwa semua itu adalah bagian dari bumi Tanah Air kita yang terjinta... Indonesia.
Djika engkau telah sampai hingga ketaraf ini maka dipelosok dunia manapun engkau berada, maupun dibawah naungan Matterhorn, Jungefrau, dipuntjak El Capitan di Sierra Nevada, didjaluran glasial di Rocky Mountain atau di Alaska,di Appalachian di daerah Kasmir atau Nepal, di Hokkaido maupun di sekitar gunung Fudjijama  jang sutji ataupun puntjak2 pegunungan di Selandia baru...engkau senantiasa dan selalu akan mengarahkan wadjahmu kedaerah chatulistiwa diantara benua Australia dan Asia ...jaitu Ibu Pertiwi Indonesia...die Heilige Heimat, karena ia adalah Mekkah dan Roma bagimu.
Seorang  jang selalu berdialog dengan alam, dengan bintang2 dilangit, dengan lembah2 dan pegunungan, dengan aliran sungai dan deburan  ombak dipantai, akan mendapat kesucian djiwa, dan apabila kau senantiasa berdialog dengan alam tanah airmu sendiri engkau akan memupuk perasaan tjinta pada tanah airmu dan perasaan patriotisme dalam arti kata jang sebenarnya. Tetapi hendaklah engkau berdialog dengan alam dengan sungguh2nja dan sedjujur2nja bukan berdialog dari mimbar pidato atau ruangan istana dan dikelilingi oleh gadis2.
Seorang  jang telah mendapatkan  kesutjian djiwa karena selalu berdialog dengan alam bebas dapat mentjintai Tanah Airnya dengan hati jang sutji bagaikan kesudcian air telaga dipegunungan jang tinggi. Djika engkau menjadi orang jang demikian engkau akan menghadapi hidup ini dengan tiada gentar dan engkau tidak akan mentjutjurkan air mata setetespun apabila engkau nanti terpaksa berpisah dari segala jang ada didunia ini. Engkau akan mendjadi Pentjinta Alam yang baik dan engkau akan menjadi seorang Manusia...jang dapat mengatakan dengan djujur pada dirimu bahwa: “soal mati bukan mendjadi urusanmu, tetapi jang menjadi persoalan pertama ialah apa jang dapat kau perbuat dengan hidupmu jang pendek dan singkat didunia ini untuk kebadjikan rakyat dan bangsamu.”
Djika nanti pada waktu “Pengadilan Achir”engkau akan ditanja oleh si “Maha Pentjipta”, maka dengan hati yang tenang dan ichlas engkau akan berani dan tenang menatap “wadjah Nja”dan berkata :”aku telah melihat,dan menikmati dan mentjintai dengan segenap hati dan sanibariku, segala apa jang Kau tjiptakan, semua gunung2mu, lembah2, sungai2, telaga2 dan samudramu, semua bintang2Mu dan pepohonan serta makhluk baik dipadang rumput maupun dipadang pasir. Engkau tidak mentjiptakanja dengan sia2, semua tjiptaanMu memang betul2 hebat dan indah”.
Kukira,dimata si Pentjipta seorang yang demikian adalah djauh lebih berharga dari seorang jang menamatkan membatja kitab AL-Qur’an 1000x tanpa mengerti dan tanpa menjadari bahwa kebesaran si Pentjipta dapat dilihat dari tjiptaanNja, jaitu pada mutiara embun di pagi jang bertaburan bersenda gurau dikuntjup kembang melati dipagi hari, pada bisikan air sungai dipegunungan jang tinggi, pada rasa tjinta seorang gadis terhadap kekasihnja atau pada rasa setia kawan seorang pemuda pada sahabatnja.
Djaganlah engaku nanti mendjadi seorang dihadapan si Pentjipta jang hanja dapat mengemukakan fakta kering tentang berapa ribu kali engkau bersudjud untuk menjembahNja tetapi tiada dapat mendjawab apabila ditanjakan kepadamu: ”Bagaimana dengan Pegunungan Tengger dan Diengku?Merapi dan danau Toba-ku jang kuTjiptakan dengan susah pajah ? Tidakkah kau perhatikan itu?”
Dalam hidupku memang beruntung. Aku telah dapat melihat dan mendaki kebanjakan puntjak jang bertaburan di Sierra Nevada, di Rocky Mountains, di Appalachians, di Alaska dan Alpen serta Pyrenean. Kutelah melihat dan mengundjungi daerah utara Kashmir  dan Nepal,  di Hokkaido dan daerah sekitar Djepang Tengah. Aku telah pula mendaki hampir semua puntjak jang menhias kepulauan Hawaii dan baru2 ini kudapat mengundjungi puntjak Tonggariro, Ngauroehoe dan Ruapehu di Selandia Baru danku telah berdjalan sepandjang kedua pulau jang membentuk Selandia Baru. Akan tetapi pertjajalah bahwa pegunungan dan daerah terindah jang pernah kulihat adalah daerah kepulauan Indonesia. Bagiku alam kepulauan Indonesia merupakan hasil paduan suara dan nada dari Orkes Symponia jang indah. Kujakin sekali, sesuatu seperti kepulauan Indonesia ini dilahirkan hanja satu kali dalam irama alam semesta jang maha besar.
Kepada segenap Mapalawan/Mapalawati kusampaikan salamku jang hangat dan sampai berdjumpa kembali dipuntjak atau lembah jang lain dari tanah air kita. Sekian.
                                                                                                                                Taufik Zen
                                                                                               

(Catatan: Dari awal 1950-an sampai pertengahan 1960-an, Prof.Dr. M.T.Zen telah menjelajah semua gunung yang disebutnya dalam surat ini. Prof.Dr. M.T.Zen, adalah rekan/sahabat dekat  Prof. Dr. Haroun Tashief, warga negara Perancis kelahiran Aljazair,  vulkanolog ahli Merapi, yang pernah menjadi Menteri Lingkungan HidupPerancis. HOL.)